Bagaimana Hukum Sunat Bagi Perempuan Dalam Islam?

Bagaimana sunat perempuan dalam Islam ?

Kontroversi seputar fenomena khitan wanita atau hukum sunat bagi perempuan dalam Islam hingga kini terus berlanjut. Forum dan diskusi muslimah kerapkali diadakan untuk mengurai permasalahan keummatan ini. Oleh karena itu, motivasi yang mendasar adalah ikhtiar menemukan pencerahan. Bukan tentang perbedaan khilafiyah di tengah-tengah umat.

Praktik khitan atau sunat baik untuk laki-laki maupun wanita ternyata sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan sunat di jaman Fir’aun telah dikenal dengan istilah Pharaonic Circumcission. Itu artinya, sunat yang oleh agama Islam dijadikan sebagai bagian standar keimanan dan ketauhidan tersebut telah terjadi jauh-jauh hari bahkan sebelum Rasulullah SAW diutus ke muka bumi.

Ajaran untuk melakukan khitan (sirkumsisi) menurut beberapa ulama salah satunya untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai bapak para nabi. Dimana Nabi Ibrahim juga disebutkan telah melakukan khitan pada usia 80 tahun. Dalam hal ini, khitan untuk laki-laki (khatnun) tidak terdapat permasalahan dan perdebatan. Yakni, dengan memotong kulfah atau ujung kulup dari kemaluan laki-laki.

Tidak hanya dilakukan oleh umat Islam (laki-laki), sunat juga dilakukan oleh umat agama dan kepercayaan lain yang memiliki perhatian terhadap masalah kesehatan. Karena pada dasarnya, khitan tersebut merupakan tindakan medis yang bermanfaat sebagai upaya untuk membersihkan kemaluan dari bakteri-bakteri dan kotoran sisa air seni (kencing), dimana dalam agama Islam hal tersebut disebut sebagai najis dan tidak sah jika melakukan shalat dalam kondisi najis.

Lantas, bagaimana dengan sunat bagi perempuan ?

Masyarakat perlu memahami bahwa sunat perempuan dapat dibedakan menjadi 2 istilah. Yakni, Khifad dan FGM (Female Genital Mutilation). Khitan wanita yang disebutkan dalam beberapa kitab fiqih (Al-Qamus Al-Fiqhy) sebagai khifad memiliki makna yaitu penggoresan sedikit kulit yang menutupi klitoris, bagian diatas faraj tempat masuknya kemaluan laki-laki.

Sedangkan istilah sunat perempuan yang kedua adalah FGM, yakni suatu tindakan memutiliasi atau memotong sebagian maupun keseluruhan dari organ genital wanita tanpa alasan yang dibenarkan secara medis. Praktik semacam ini masih terjadi di beberapa tempat pada suku-suku pedalaman, beberapa negara di Benua Afrika, Timur tengah dan Asia maupun (mungkin) dari sebagian umat Islam yang berusaha untuk menjalankan sunnah akan tetapi tidak tercukupi ilmu yang seharusnya dimiliki.

Hal ini penting untuk diketahui bahwa sunat bagi perempuan dengan menerapkan FGM dilarang keras oleh WHO (World Health Organization) dan dianggap melanggar Hak Azasi Manusia. Serta hingga saat ini tidak ada penelitian maupun pembuktian ilmiah jika khitan perempuan berupa FGM tidak memiliki manfaat untuk kesehatan. Bahkan justru membahayakan kesehatan dan mengancam nyawa perempuan yang bersangkutan.

WHO mengurai lebih jelas dan rinci resiko sunat perempuan dengan FGM (memotong organ genital perempuan) dan membaginya menjadi 2 bagian yakni komplikasi jangka pendek maupun konsekuensi jangka panjang. Resiko mutilasi sunat perempuan antara lain, sakit parah, pendarahan, pembengkakan jaringan genital, demam, tetanus, permasalahan saluran kencing, syok hingga kematian.

Sedangkan efek jangka panjang, khitan wanita dengan cara mutilasi genital antara lain beresiko munculnya permasalahan saluran kencing, infeksi vagina, komplikasi saat persalinan, permasalahan seksualitas dan yang tidak bisa diremehkan adalah gangguan psikis seperti depresi dan semacamnya.

Umat Islam khususnya muslimah wajib memahami perbedaan mendasar dari 2 praktik sunat wanita tersebut. Hal ini penting untuk diketahui sebagai bekal untuk melindungi diri dan keluarga dari praktik-praktik yang tidak dibenarkan baik secara medis maupun agama.

Kedua, pemahaman tentang sunat wanita ini juga untuk menepis tuduhan-tuduhan kaum orientalis barat yang menyebut agama Islam sebagai agama barbarian yang merendahkan martabat kaum wanita. Karena sunat wanita model FGM bukanlah ajaran Islam.

Hukum Sunat Bagi Perempuan

Pembahasan tentang hukum sunat bagi perempuan disini tentunya bukanlah FGM, baik berupa menyempitkan, melebarkan, memotong organ kewanitaan serta termasuk menindik. Karena FGM jelas haram dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Sebab pada dasarnya, mutilasi genital pada wanita melanggar beberapa prinsip syariah ajaran Islam. Yakni, tidak boleh melakukan perbuatan berbahaya baik untuk diri sendiri dan orang lain, menyalahi prinsip menjaga nyawa serta melanggar prinsip menjaga keturunan.

Sedangkan sunat perempuan Khafd, para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Mahzab Syafi’i menyebut khitan wajib baik laki-laki maupun bagi perempuan. Dan tiga mahzab lainnya ada yang menyebut sunnah ada pula yang menyatan sebagai makrumah (kemuliaan).

Belum ditemukannya dalil yang secara tegas dan jelas memerintahkah (bahkan cenderung membahayakan) untuk sunat bagi peremupuan menjadikan hal ini tidak dapat untuk menganjurkan apalagi mewajibkannya. Selanjutnya karena sunat bagi perempuan bukanlah suatu kewajiban, tentu wanita yang sampai dewasa ataupun wanita yang menyatakan Islam setelah dewasa tidak wajib melakukan sunat.

Sunat wanita ini perlu ditimbang sisi positif dan negatifnya. Jangan sampai khitan yang dilakukan justru membahayakan maupun mengurangi hak-haknya sebagai wanita. Berkurangnya kemampuan seksual wanita dikarenakan oleh tindakan tersebut juga tidak dibenarkan. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pada seorang sahabat Abdullah bin Amr bin Ash yang berbunyi, “istrimu memiliki hak kepadamu,” Itu artinya, jika seorang suami mengharap hak mendapatkan kenikmatan dari istrinya, maka begitupula dengan seorang istri atas suaminya.

Intinya, sunat bagi perempuan tidak wajib dilakukan. Bahkan cenderung tidak dianjurkan jika dalam praktiknya berpotensi menimbulkan resiko bagi wanita bersangkutan.

Namun jika sobat LuQi Hijab berbeda pendapat dengan uraian diatas, hal itu merupakan khilafiyah dan tidak perlu dipertentangkan. Silahkan dikembalikan sesuai dengan keyakinan dan pemahaman ajaran agama masing-masing. Jika ada diantara sobat sekalian memutuskan untuk berkhitan, maka pastikan jika sunat perempuan yang dimaksud adalah sebatas Khifad, bukan FGM. Wallahu a’lam bish-shawab.

ReferensiΒ Tarjih.Or.Id

LUQIHIJAB.COM – Toko online jilbab & busana muslimah
ALAMAT Perum Mastrip Blok X No.4, Jember, Jawa Timur
WHATSAPP 0852 2031 0329 TELP./SMS 0813 5831 6163