1 Muharram, Kilas Balik Sejarah Tahun Baru Hijriyah

tahun-baru-islam-tahun-baru-hijriyah
1 Muharram, Sejarah Tahun Baru Hijriyah

Demi angin yang bertiup menerus
Demi badai yang keras
Demi angin yang menebarkan awan
Demi pembeda haq dan batil
Demi yang menurunkan peringatan
Untuk ampunan bagi orang-orang beriman
Dan peringatan bagi orang-orang kafir
Sesungguhnya, apa yang dijanjikan kepadamu akan menjadi kenyatan.

Bila bintang-bintang telah kehilangan cahayanya
Bila langit telah terbelah
Bila gunung-gunung telah hancur
Dan bila telah ditentukan para rasul untuk berkumpul
Untuk hari ketika para rasul sabagai saksi
Ialah untuk hari keputusan bagi segala manusia.
(QS. Al- Mursalat : 1-13)

Kalender hijriyah diketahui sebagai tahun Islam. Umat Islam memperingati beberapa hari besar, seperti idul fitri, idul adha, puasa Ramadhan dengan berpatokan pada kalender Hijriyah. Akan tetapi sejarah yang mengiringi penggunaan kalender Hijriyah jarang diketahui oleh para muslim umumnya.

Penetapan tahun hijriyah berawal dari surat amirul mukminin Abu Bakar kepada Abu Musa Al-Asy’Ary, gubernur Basrah, yang hanya tertulis bulan Sya’ban tanpa tahun. Terdapat pula riyawat yang menceritakan surat tersebut tanpa tanggal. Hal ini menyebabkan kebingungan akan informasi yang diperoleh. Apakah informasi tersebut sudah kadaluarsa atau informasi penting dalam waktu dekat.

Berdasar kejadian tersebut Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat untuk menetapkan tahun yang akan menjadi acuan bagi kaum muslimin. Sebenarnya, di tanah Arab sudah biasa menggunakan peristiwa besar untuk menjadi acuan tahun, seperti tahun diserangnya ka’bah oleh Abrohah. Di tahun gajah ini (Fiil) merupakan tahun kelahiran Rasulullah SAW. Sedangkan bulannya menggunakan fase-fase bulan yaitu penanggalan Qomariyah.

Penentuan Awal Tahun Hijriyah

Musyawarah dilakukan untuk mentukan awal tahun dan bulan. Pembahasan pertama untuk merumuskan memulainya awal tahun Islam. Terdapat pendapat menggunakan kalender yang sudah ada, yang menggunakan perhitungan awal dari masa Iskandar Agung. Pendapat lain dari Ali bin Abi Thalib mengusulkan menggunakan tahun ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah.

Abu Bakar lebih menerima usul Ali, karena hirahnya Rasulullah SAW bersamaan dengan pembangunan masjid pertama kaum muslimin yaitu masjid Quba. Masjid bersejarah yang menjadi tonggak pertama Islam mengembangkan Islam sampai berbagai belahan dunia. Selain itu Umar bin Khattab berpendapat bahwa hijrah adalah pembedaan antara yang haq dan batil.

Sebenarnya ada pendapat lain yang mengusulkan tahun lahir Rasulullah atau tahun wafat Rasulullah menjadi acuan. Akan tetapi untuk menghindari sikap berlebihan akan momentum tersebut, maka tidak dipilih. Hal ini dilakukan untuk menghindari seperti, kaum Nasrani menggunakan tanggal kelahiran Yesus menjadi acuan. Bangsa Majusi (Persia) menjadikan tahun kematian rajanya menjadi patokan penanggalan.

Penentuan Awal Bulan Hijriyah

Penentuan awal bulan hijriyah terdapat beberapa pendapat dari para sahabat antara lain, bulan Ramadhan sebagai awal Hijriyah. Alasan Ramadhan sebagai awal karena merupakan bulan suci. Pendapat lain mengusulkan Muharram sebagai awal dengan pertimbangan karena telah menyelesaikan ibadah haji dan berqurban yaitu di bulan Dzulhijah. Berdasarkan pertimbangan ini maka dipilih Muharrom sebagai awal bulan dari tahun Hijriyah.

Pemilihan bulan Qomariyah sendiri adalah karena kemudahan dalam berislam. Bukan kebetulan dengan sekedar mengikuti penaggalan bangsa Arab kuno. Penggantian bentuk dari bulan sabit menjadi purnama dalam sebulan memudahkan pengamatan akan perubahan waktu.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.“ (QS. Yunus : 5)

Nama Bulan Islam Hijriyah

Kalender hijriyah juga terdapat 12 bulan sebagaimana pada tahun masehi. Hanya saja dalam perhitungan tahun hijriah hanya berjumlah 29 dan 30 hari, tidak terdapat jumlah hari sebanyak 31 hari yang ada pada bulan kalender masehi. Oleh karena itu jumlah hari dalam setahun pun berbeda. Dalam kalender hijriyah terdapat 354 atau 355 hari.

Adapun nama-nama bulan Islam Hijriyah, sebagaimana berikut:

1. Muharram
2. Safar
3. Rabiul awal
4. Rabiul akhir
5. Jumadil ula
6. Jumadil tsani
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulkaidah
12. Dzulhijjah

Nama bulan Hijriyah ini perlu diperkenalkan pada seluruh umat Islam sejak dini karena dalam penaggalan tersebut terdapat tanggal-tanggal penting yang perlu diketahui dan berhubungan dengan perintah ibadah. Seperti tanggal 1 Ramadhan dimulainya puasa Ramadhan, tanggal 1 Syawal hari raya Idul Fitri, tanggal 9 Dzulhijjah untuk puasa Arafah dan 10 Dzulhijjah untuk hari raya Idul Qurban dan hari-hari besar lainnya yang perlu untuk diperingati termasuk Isra’ Mi’raj pada tanggal 27 Rajab.

Saat ini, ilmuwan-ilmuwan diseluruh dunia termasuk Indonesia berjuang untuk merumuskan kalender hijriyah global. Penyatuan dalam bentuk KIGT (Kalender Islam Global Tunggal) merupakan sebuah keharusan bagi peradaban umat Islam saat ini. Tidak hanya berorientasi ibadah vertikal, akan tetapi kalender Islam global tunggal juga akan memiliki dampak positif pada kehidupan bisnis dan muamalah umat Islam di seluruh dunia.

Semoga ikhtiar penyatuan kalender tahun hijriyah global tersebut segera terwujud. Aamiin.

LUQIHIJAB.COM – Toko online jilbab & busana muslimah
ALAMAT Perum Mastrip Blok X No.4, Jember, Jawa Timur
WHATSAPP 0852 2031 0329 TELP./SMS 0813 5831 6163